SHARE
Home > News > Features > Mengenal Jenis Vaksin COVID-19, Apa Saja Perbedaannya?
Mengenal Jenis Vaksin COVID-19, Apa Saja Perbedaannya?

Mengenal Jenis Vaksin COVID-19, Apa Saja Perbedaannya?

12 July 2021 12:06 WIB Features Vaksinasi COVID-19 COVID-19

Kemenkes telah menetapkan tujuh jenis vaksin COVID-19 yang akan digunakan dalam program vaksinasi. Seperti yang diketahui, pemerintah akan terus memutus rantai penyebaran COVID-19 melalui vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat umum.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020, maka telah ditetapkan beberapa jenis vaksin COVID-19 yang akan beredar di Indonesia, yaitu vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma, Sinopharm, Oxford-AstraZeneca, Moderna, Novavax, Sinovac, dan Pfizer-BioNTech.

Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Sediakan Vaksinasi Gratis, Ini Syaratnya

Lalu, apa saja perbedaan dari ketujuh jenis vaksin COVID-19 Indonesia di atas? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Perbedaan Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Berikut ini adalah beberapa perbedaan dari jenis vaksin COVID yang digunakan di Indonesia dan disetujui oleh Kemenkes RI:

1. Sinovac
Vaksin Sinovac telah melampaui standar minimal 50%
Vaksin Sinovac telah melampaui standar minimal 50%. (Foto: Bloomberg)

Dikutip dari Alodokter, vaksin Sinovac sudah melampaui standar minimal 50% yang ditetapkan oleh WFO dan FDA. Kemudian, Sinovac juga sudah memperoleh izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) dari BPOM dan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Setelah disuntikkan vaksin Sinovac, virus tidak aktif yang terkandung di dalamnya akan memicu sistem kekebalan tubuh. Kemudian, menghasilkan antibodi yang akan melawan virus Corona. Jika kamu terpapar COVID-19, maka sudah ada antibodi yang akan melawannya.

  • Negara asal: Tiongkok
  • Bahan dasar: SARS-CoV-2 yang sudah dimatikan (inactivated virus)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-59 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 14 hari

Vaksin Sinovac juga dinilai aman, karena efek samping yang muncul hanya bersifat ringan dan sementara. Misalnya, nyeri di titik penyuntikan, sakit kepala, dan nyeri otot. Umumnya, efek samping yang paling banyak terjadi adalah nyeri di titik penyuntikan dan hilang dalam tiga hari.

2. Oxford-AstraZeneca
AstraZeneca terbukti aman dan efektif mengurangi risiko terinfeksi COVID-19
AstraZeneca terbukti aman dan efektif mengurangi risiko terinfeksi COVID-19. (Foto: Reuters)

Vaksin Oxford-AstraZeneca tidak terlalu berbeda dengan Sinovac. Vaksin ini sudah terbukti aman dan dan efektif untuk mengurangi risiko terinfeksi COVID-19 dan terjadinya penyakit berat atau harus dirawat di rumah sakit.

Oxford-AstraZeneca mengandung virus yang tidak berbahaya. Setelah disuntikkan, virus akan masuk ke dalam sel tubuh. Kemudian, memicu sistem imun tubuh untuk menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel imun yang bisa melawan COVID-19.

  • Negara asal: Inggris
  • Bahan dasar: Virus hasil rekayasa genetika (viral vector)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 4-12 minggu

Pada uji klinisnya, sebagian besar efek sampingnya hanya bersifat ringan hingga sedang, lalu bisa sembuh dalam beberapa hari. Gejala yang banyak dialami adalah nyeri otot, gatal, kemerahan, bengkak atau benjol di titik penyuntikan, lelah, demam, menggigil, mual, sakit kepala, muntah, flu, radang tenggorokan, dan batuk.

Kemudian, gejala yang jarang terjadi adalah nafsu makan menurun, pusing, pembesaran kelenjar getah bening, sakit perut, kulit gatal, dan keringat berlebihan.

3. Sinopharm
Sinopharm telah melewati uji klinis fase ketiga
Sinopharm telah melewati uji klinis fase ketiga. (Foto: South China Morning Post)

Mekanisme dari Sinopharm sama dengan Sinovac, yakni memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap COVID-19. Lalu, vaksin ini menggunakan virus yang sudah dimatikan terlebih dahulu.

  • Negara asal: Tiongkok
  • Bahan dasar: virus Corona yang sudah dimatikan (inactivated virus)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-85 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 21 hari

Kemudian, Sinopharm telah melewati uji klinis fase tiga dan memperoleh izin penggunaan darurat dari otoritas kesehatan di Arab Saudi dan Tiongkok. Hingga saat ini, pemberian vaksin Sinopharm cukup aman dan tidak menimbulkan efek samping serius.

4. Moderna
Moderna menggunakan bahan genetik virus mRNA
Moderna menggunakan bahan genetik virus mRNA. (Foto: Reuters)

Moderna sedikit berbeda dengan ketiga jenis vaksin di atas, karena bahan dasar yang digunakan di dalamnya. Jenis vaksin ini menggunakan salah satu bahan genetik virus mRNA. Moderna bekerja dengan cara mengarahkan sel tubuh untuk memproduksi protein yang sama dengan COVID-19.

Selanjutnya, sel tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan protein tersebut. Lalu, antibodi tersebut akan melindungi tubuh dari COVID-19.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 28 hari

Baca juga: Daftar Aplikasi Telemedicine Gratis Bagi Pasien Isoman COVID-19

Pada uji klinisnya, efek samping yang terjadi adalah sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta kelelahan. Namun, efek samping tersebut akan hilang paling lama dalam dua hari. Selain itu, ada pula yang merasakan nyeri di titik penyuntikan, kemerahan, bengkak, namun tingkatnya masih ringan hingga sedang.

5. Pfizer-BioNTech
Hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi
Hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi. (Foto: Pharmaceutical Technology)

Meski bahan dasarnya sama dengan Moderna, tetapi hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi. Terlepas dari perbedaan tersebut, kedua jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia ini memiliki tingkat keamanan dan efek samping yang hampir sama.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 16-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,3 ml per dosis) dengan jarak tiga minggu
6. Novavax
Novavax meniru protein alami pada virus Corona
Novavax meniru protein alami pada virus Corona. (Foto: Gavi)

Protein sub-unit yang digunakan dalam Novavax dibuat khusus untuk meniru protein alami pada COVID-19. Saat masuk ke dalam tubuh, protein ini akan memicu antibodi untuk melawan virus Corona dan mencegah adanya infeksi.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: protein sub-unit
  • Uji klinis: Fase III
  • Usia peserta: 18-59 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 21 hari

Hasil pengujian klinis awal yang diterbitkan Novavax menunjukkan reaksi antibodi yang kuat pada manusia, kemudian tanpa efek samping serius.

7. Merah Putih (Bio Farma)
Ilustrasi vaksin Merah Putih yang masih dalam tahap penelitian
Ilustrasi vaksin Merah Putih yang masih dalam tahap penelitian. (Pexels/Polina Tankilevitch)

Bekerja sama dengan Lembaga Biomolekuler Eijkman, PT Bio Farma masih melakukan pengembangan dan penelitian terhadap vaksin COVID-19. Uji klinis jenis vaksin ini rencananya dimulai pada Juni 2021 lalu.

Berdasarkan informasi, vaksin Merah Putih bisa diperoleh pada September 2021. Kemudian, uji pre-klinis bisa selesai pada Oktober 2021. Lalu, uji klinis 1-3 diperkirakan akan selesai dan memperoleh izin penggunaan darurat pada September 2022 mendatang.

Itulah jenis vaksin COVID-19 yang perlu kamu ketahui. Jenis vaksin di atas diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi pandemi COVID-19. Setiap vaksin tentunya memiliki efek samping, namun tingkatnya masih terbilang ringan hingga sedang.

Baca juga: Kemenkes Akan Luncurkan Aplikasi Farma Plus untuk Cek Ketersediaan Obat Covid-19

Soffi Amira P.
[email protected]

Side.id - Media Kawasan Alam Sutera, BSD dan Gading Serpong

Merupakan media untuk memberikan rekomendasi tempat yang berdasarkan lokasi, rating, dan kategori yang diinginkan. Sudah punya usaha bisnis dan ingin menyampaikan profil bisnis Anda kepada pembaca setia? Daftarkan sekarang! Gratis!
Home > Blog > Features > Mengenal Jenis Vaksin COVID-19, Apa Saja Perbedaannya?

Mengenal Jenis Vaksin COVID-19, Apa Saja Perbedaannya?

12 July 2021 12:06 WIB
Features Vaksinasi COVID-19 COVID-19

Kemenkes telah menetapkan tujuh jenis vaksin COVID-19 yang akan digunakan dalam program vaksinasi. Seperti yang diketahui, pemerintah akan terus memutus rantai penyebaran COVID-19 melalui vaksinasi COVID-19 kepada masyarakat umum.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020, maka telah ditetapkan beberapa jenis vaksin COVID-19 yang akan beredar di Indonesia, yaitu vaksin yang diproduksi oleh PT Bio Farma, Sinopharm, Oxford-AstraZeneca, Moderna, Novavax, Sinovac, dan Pfizer-BioNTech.

Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Sediakan Vaksinasi Gratis, Ini Syaratnya

Lalu, apa saja perbedaan dari ketujuh jenis vaksin COVID-19 Indonesia di atas? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Perbedaan Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Berikut ini adalah beberapa perbedaan dari jenis vaksin COVID yang digunakan di Indonesia dan disetujui oleh Kemenkes RI:

1. Sinovac
Vaksin Sinovac telah melampaui standar minimal 50%
Vaksin Sinovac telah melampaui standar minimal 50%. (Foto: Bloomberg)

Dikutip dari Alodokter, vaksin Sinovac sudah melampaui standar minimal 50% yang ditetapkan oleh WFO dan FDA. Kemudian, Sinovac juga sudah memperoleh izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) dari BPOM dan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Setelah disuntikkan vaksin Sinovac, virus tidak aktif yang terkandung di dalamnya akan memicu sistem kekebalan tubuh. Kemudian, menghasilkan antibodi yang akan melawan virus Corona. Jika kamu terpapar COVID-19, maka sudah ada antibodi yang akan melawannya.

  • Negara asal: Tiongkok
  • Bahan dasar: SARS-CoV-2 yang sudah dimatikan (inactivated virus)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-59 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 14 hari

Vaksin Sinovac juga dinilai aman, karena efek samping yang muncul hanya bersifat ringan dan sementara. Misalnya, nyeri di titik penyuntikan, sakit kepala, dan nyeri otot. Umumnya, efek samping yang paling banyak terjadi adalah nyeri di titik penyuntikan dan hilang dalam tiga hari.

2. Oxford-AstraZeneca
AstraZeneca terbukti aman dan efektif mengurangi risiko terinfeksi COVID-19
AstraZeneca terbukti aman dan efektif mengurangi risiko terinfeksi COVID-19. (Foto: Reuters)

Vaksin Oxford-AstraZeneca tidak terlalu berbeda dengan Sinovac. Vaksin ini sudah terbukti aman dan dan efektif untuk mengurangi risiko terinfeksi COVID-19 dan terjadinya penyakit berat atau harus dirawat di rumah sakit.

Oxford-AstraZeneca mengandung virus yang tidak berbahaya. Setelah disuntikkan, virus akan masuk ke dalam sel tubuh. Kemudian, memicu sistem imun tubuh untuk menghasilkan antibodi dan mengaktifkan sel imun yang bisa melawan COVID-19.

  • Negara asal: Inggris
  • Bahan dasar: Virus hasil rekayasa genetika (viral vector)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 4-12 minggu

Pada uji klinisnya, sebagian besar efek sampingnya hanya bersifat ringan hingga sedang, lalu bisa sembuh dalam beberapa hari. Gejala yang banyak dialami adalah nyeri otot, gatal, kemerahan, bengkak atau benjol di titik penyuntikan, lelah, demam, menggigil, mual, sakit kepala, muntah, flu, radang tenggorokan, dan batuk.

Kemudian, gejala yang jarang terjadi adalah nafsu makan menurun, pusing, pembesaran kelenjar getah bening, sakit perut, kulit gatal, dan keringat berlebihan.

3. Sinopharm
Sinopharm telah melewati uji klinis fase ketiga
Sinopharm telah melewati uji klinis fase ketiga. (Foto: South China Morning Post)

Mekanisme dari Sinopharm sama dengan Sinovac, yakni memicu sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap COVID-19. Lalu, vaksin ini menggunakan virus yang sudah dimatikan terlebih dahulu.

  • Negara asal: Tiongkok
  • Bahan dasar: virus Corona yang sudah dimatikan (inactivated virus)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-85 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 21 hari

Kemudian, Sinopharm telah melewati uji klinis fase tiga dan memperoleh izin penggunaan darurat dari otoritas kesehatan di Arab Saudi dan Tiongkok. Hingga saat ini, pemberian vaksin Sinopharm cukup aman dan tidak menimbulkan efek samping serius.

4. Moderna
Moderna menggunakan bahan genetik virus mRNA
Moderna menggunakan bahan genetik virus mRNA. (Foto: Reuters)

Moderna sedikit berbeda dengan ketiga jenis vaksin di atas, karena bahan dasar yang digunakan di dalamnya. Jenis vaksin ini menggunakan salah satu bahan genetik virus mRNA. Moderna bekerja dengan cara mengarahkan sel tubuh untuk memproduksi protein yang sama dengan COVID-19.

Selanjutnya, sel tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan protein tersebut. Lalu, antibodi tersebut akan melindungi tubuh dari COVID-19.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 18-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 28 hari

Baca juga: Daftar Aplikasi Telemedicine Gratis Bagi Pasien Isoman COVID-19

Pada uji klinisnya, efek samping yang terjadi adalah sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta kelelahan. Namun, efek samping tersebut akan hilang paling lama dalam dua hari. Selain itu, ada pula yang merasakan nyeri di titik penyuntikan, kemerahan, bengkak, namun tingkatnya masih ringan hingga sedang.

5. Pfizer-BioNTech
Hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi
Hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi. (Foto: Pharmaceutical Technology)

Meski bahan dasarnya sama dengan Moderna, tetapi hasil uji klinis fase tiga Pfizer sedikit lebih tinggi. Terlepas dari perbedaan tersebut, kedua jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia ini memiliki tingkat keamanan dan efek samping yang hampir sama.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: messenger RNA (mRNA)
  • Uji klinis: Fase III (selesai)
  • Usia peserta: 16-55 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,3 ml per dosis) dengan jarak tiga minggu
6. Novavax
Novavax meniru protein alami pada virus Corona
Novavax meniru protein alami pada virus Corona. (Foto: Gavi)

Protein sub-unit yang digunakan dalam Novavax dibuat khusus untuk meniru protein alami pada COVID-19. Saat masuk ke dalam tubuh, protein ini akan memicu antibodi untuk melawan virus Corona dan mencegah adanya infeksi.

  • Negara asal: Amerika Serikat
  • Bahan dasar: protein sub-unit
  • Uji klinis: Fase III
  • Usia peserta: 18-59 tahun
  • Dosis: dua dosis (0,5 ml per dosis) dengan jarak 21 hari

Hasil pengujian klinis awal yang diterbitkan Novavax menunjukkan reaksi antibodi yang kuat pada manusia, kemudian tanpa efek samping serius.

7. Merah Putih (Bio Farma)
Ilustrasi vaksin Merah Putih yang masih dalam tahap penelitian
Ilustrasi vaksin Merah Putih yang masih dalam tahap penelitian. (Pexels/Polina Tankilevitch)

Bekerja sama dengan Lembaga Biomolekuler Eijkman, PT Bio Farma masih melakukan pengembangan dan penelitian terhadap vaksin COVID-19. Uji klinis jenis vaksin ini rencananya dimulai pada Juni 2021 lalu.

Berdasarkan informasi, vaksin Merah Putih bisa diperoleh pada September 2021. Kemudian, uji pre-klinis bisa selesai pada Oktober 2021. Lalu, uji klinis 1-3 diperkirakan akan selesai dan memperoleh izin penggunaan darurat pada September 2022 mendatang.

Itulah jenis vaksin COVID-19 yang perlu kamu ketahui. Jenis vaksin di atas diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengatasi pandemi COVID-19. Setiap vaksin tentunya memiliki efek samping, namun tingkatnya masih terbilang ringan hingga sedang.

Baca juga: Kemenkes Akan Luncurkan Aplikasi Farma Plus untuk Cek Ketersediaan Obat Covid-19

Soffi Amira P.
[email protected]
Baru Dibuka

Lumiere Kitchen & Wardrobe

Jl. Kp. Dongkol, Tangerang, Banten, 15320

Buka pukul 10:00 - 18:00 Buka

Side.id - Media Kawasan Alam Sutera, BSD dan Gading Serpong

Merupakan media untuk memberikan rekomendasi tempat yang berdasarkan lokasi, rating, dan kategori yang diinginkan. Sudah punya usaha bisnis dan ingin menyampaikan profil bisnis Anda kepada pembaca setia? Daftarkan sekarang! Gratis!